Begitu banyak ungkapan literasi baik berupa lagu atau puisi yang bercerita tentang ibu yang di berbagai daerah mempunyai sebutan berbeda- beda: ibu, bunda, bundo, emak, mamak, simbok, biyung, embuk, umak, ina atau ummi, ummu, mother, mommy bahkan Anang hermansyah menyebutnya mimi. Melly Guslow menciptakan lagu tentang bunda, Iwan Fals dengan lagunya ibu, Bang Haji Rhoma Irama dengan lagu “Keramat” nya, namun penulis ingin mengulas syair/ puisi dari tanah Arab yang berjudul Lil. Ummi kahaqun oleh N. N

Li ummi kahaqun
Li ummi kahaqun lau alimta kabiiru (Bagi ibu besar sekali haknya bila engkau tahu)
Katsiru kayahadza ladaihi yasiru ( Segala balas budimu yang banyak sangat kecil dibandingkan jasa ibumu)
Fakam lailatin batat bitsaqolika tasytaki ( Beberapa malam ibumu tidak bisa tidur kesakitan yg amat sangat mengandung mu, ia pun mengaduh)
Laha min juwaha annahu wazafiiru (Dan rongga mulutnya keluar rintihan dan isak tangis)
Hu… Hu.. Hu..
Wafil wadhi lau tadri alaiha masyaqotun ( Jika engkau mengerti dalam melahirkan mu, ibumu sangat menderita sekali)
Famin ghushosin minhal fuadu yathiru ( karena sulitnya melahirkan, hati terasa melayang)
Wakam ghosalat ankal adza biyaminiha ( Betapa seringnya ibumu membersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya)
Wama hijruha illa ladaika sariru ( Dan pangkuan ibumu tiada lain menjadi tempat tidurmu
Watufdika mimma tasytakihi binafsiha ( Dan ibumu telah menebusmu dengan segala kesakitan yang dialaminya)
Wamin tsadyiha syurbun ladaika namiru ( Dan dari air susu ibumu mengalir minuman yang segar bagimu)
Wakam martotin jaat waa’ thotika qutaha ( Betapa seringnya ibumu menahan lapar namun tetap member ikan makan kepadamu)
Faahalidzi aqlin wayattabi’u hawa ( Alangkah hinanya bagi orang yang berakal sedangkan dia mengikuti hawa nafsunya)
Waaha lia’mal qolbihi wahuwa bashiru ( Alangkah hinanya orang yang buta hatinya sedangkan matanya melihat)
Fadunaka farghob fiamimi dua’iha ( Senangkanlah dirimu yang selalu ada doa ibumu)
Faanta lima tad’u ilaihi faqiru
Faanta lima tad’u ilaihi faqiru ( Sedangkan engkau selalu membutuhkan doa ibumu)


Syair di atas menceritakan bahwa menjadi ibu sangat berat harus meregangkan nyawa ketika melahirkan kita, ketika kita lahir ibu harus merawat kita dengan memberikan asinya dan menahan lapar dan tetap harus memberikan makan kepada anaknya bahkan harus membersihkan kotoran kita dengan tangan kanannya. Alangkah hinanya bagi orang yang berakal yang mengikuti hawa nafsunya dengan menelantarkan ibu kita, banyak kisah yg terjadi karena durhaka kepada ibu seperti Malin Kundang, Batu menangis atau Kisah tentang Alqomah yang kesulitan dalam menjelang ajalnya karena tidak memuliakan ibunya atau Juraij yang harus menanggung malu karena tidak mengindahkan panggilan ibunya ketika salat sunnah.

Berbahagialah bila kita tetap mendapatkan doa ibu kita, walau kita sudah tidak mempunyai ibu lagi tetap tugas kita mendoakan beliau. Di akhir baris syair di atas penulis selalu merasa terharu dengan baris tersebut: Sedangkan engkau selalu mengharapkan doa ibumu, layak bila sang penyair sampai menuliskan dua kali baris tersebut.. Dimanapun ibu kita berada, kita selalu mengharapkan doa ibu karena surga ada di bawah telapak kaki ibu. Di sebuah riwayat disebutkan Siapakah yg berhak kita hormati? Ibumu, ibumu, ibumu lalu ayahmu.

Tak ada kata terlambat untuk menyampaikan Selamat Hari ibu nasional bagi semua insan yang dipanggil ibu ( M. Huda)

Leave a Comment