Bagi siswa-siswi SMP Negeri 41 Surabaya, hari pembagian rapot biasanya menjadi momen yang penuh debar. Namun, di balik angka-angka nilai, ada satu pemandangan yang sangat kita dambakan di koridor sekolah kita: Hadirnya sosok Ayah.
Banyak ayah di Surabaya yang berangkat gelap pulang gelap demi mencari nafkah. Namun, seringkali kesibukan ini membuat posisi ayah di mata anak hanya sebagai “mesin ATM” atau sosok yang hadir secara fisik tapi absen secara batin.
Fenomena fatherless bukan berarti tidak punya ayah, melainkan minimnya keterlibatan emosional ayah dalam tumbuh kembang anak, terutama di usia remaja SMP yang sedang mencari jati diri.
Mengapa Siswa SMPN 41 Butuh Ayah di Sekolah?
Usia SMP adalah masa transisi dari anak-anak menuju remaja. Di masa ini, siswa butuh figur otoritas yang suportif. Saat Ayah meluangkan waktu datang ke sekolah di Jalan Gembong Sekolahan No. 5 itu mengirimkan pesan kuat: “Pendidikanmu adalah prioritasku.”
Mengambil rapot bukan tentang melihat nilai merah atau biru. Ini tentang duduk bersama, mendengarkan guru, dan menunjukkan bahwa Ayah bangga pada proses yang dijalani sang anak.
Psikolog ternama Indonesia, Elly Risman, Psi. Menekankan bahwa anak yang kehilangan peran ayah (father hunger) cenderung memiliki harga diri yang rendah dan lebih rentan terjerumus pada pergaulan bebas atau kenakalan remaja. “Ayah adalah sosok yang mengajarkan tentang batasan dan perlindungan. Kehadirannya memberikan rasa aman yang berbeda dari ibu,” jelasnya
